Monday, January 25, 2010

AKHLAK KEPADA ALLAH (1) : AKHLAK KETIKA SHALAT


Kepercayaan adanya Tuhan Yang Maha Esa yang dalam Islam lebih spesifik penekanannya iman kepada Allah telah diakui  oleh banyak agama, bahkan aliran kepercayaan pun mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa.  Hanya saja, cara untuk sampai kepada tuhan Yang maha Esa, masing-masing agama berbeda-beda dan juga tolok ukur untuk dikatakan telah beragama berbeda-beda pula. Islam sebagai agama yang sarat dengan aturan-aturan telah memberikan peluang dan kelonggaran kepada pemeluknya untuk melakukan berbagai  kegiatan sebagai bukti pengakuan dirinya akan adanya Tuhan dengan berbagai bentuk amalan ibadah.[1]

Ada tolok ukur tertentu untuk mengukur bahwa seseorang telah mengaku beragama Islam yaitu keharusan melaksanakan ibadah-ibadah terutama yang mahdhah, seperti  shalat, puasa, zakat dan haji.

Oleh karena itu, orag islam harus mengerti betul tentang esensi dan praktik dari  amalan-amalan ibadah itu sendiri dan dapat mengaplikasikannya dengan baik dan benar.


A.    A. AKHLAK KETIKA  SHALAT


a.      1. Adab dalam berpakaian.


Pakaian sebagai kebutuhan primer kita sehari-hari sangat layak diperhatikan,  terlebih ketika kita menghadap Allah di dalam sholat. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam berpakaian ketika shalat antara lain sebagai berikut:[2]
  • Hendaknya pakaian yang kita kenakan bersih dari kotoran dan najis.

 Sesungguhnya Allah menyukai orang – orang yang taubat dan menyukai orang – orang yang mensucikan diri (QS.Al Baqoroh : 222).

Sabda Nabi riwayat At Thobaroni dan Siti Aisyah r.a., “Islam itu agama bersih, maka jagalah kebersihan (kesucian) karena sesungguhnya tidaklah akan masuk surga kecuali orang yang bersih”.
  • Hendaknya pakaian yang kita kenakan tidak ketat sehingga menggambarkan bentuk aurat.
Mengenakan pakaian ketat jelas tidak disukai syariat, dan juga tidak baik bagi kesehatan. Karena efeknya berbahaya bagi badan. Bahkan ada yang saking ketatnya hingga membuat pemakainya tidak dapat sujud.

  •  Hendaknya tidak tipis dan tidak transparan.

Sebagaimana makruh (dibenci)nya sholat dengan pakaian ketat yang menggambarkan bentuk aurat, maka demikian pula tidak boleh sholat dengan pakaian yang tipis yang tampak secara transparan apa yang ada di baliknya seperti pakaian sebagian orang yang gila mode di jaman ini, mereka poles apa yang dianggap aib oleh syariat hingga tampak indah. Pakaian seperti ini tidaklah layak digunakan untuk bershalat.

  • Hendaknya tidak sampai terbuka auratnya.

·         Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin dalam menanggapi beberapa kesalahan yang dilakukan sebagian kaum muslimin di dalam sholat, beliau berkata, "Banyak di antara manunsia tidak lagi mengenakan pakaian yang luas dan lapang, mereka hanya mengenakan celana panjang dan kemeja pendek yang menutupi dada dan punggung. Bila mereka ruku’, kemeja tertarik hingga tampak sebagian punggung dan ekornya yang merupakan aurat dan dilihat oleh orang yang ada di belakangnya. Padahal terbukanya aurat merupakan sebab batalnya sholat.

·         Wanita yang tidak menjaga pakaian dan tidak memperhatikan menutup seluruh badan, sedang ia berada di hadapan Robbnya, baik karena bodoh, malas atau acuh tak acuh. Padahal sudah menjadi kesepakatan bahwa pakaian yang mencukupi bagi wanita untuk sholat adalah baju panjang dan kerudung.

Kadang-kadang seorang wanita sudah memulai sholat padahal sebagian rambut atau lengan atau betisnya masih terbuka. Maka ketika itu –menurut jumhur ahli ilmu- wajib ia mengulangi sholatnya. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Sayidah Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Allah tidak menerima sholat wanita yang telah haid (baligh) kecuali dengan kerudung." (HSR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan yang lain).

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya sebagai berikut, "Pakaian apa yang pantas dikenakan wanita untuk sholat?" Beliau menjawab, "Kerudung dan baju panjang yang longgar sampai menutup kedua telapak kaki."  (Riwayat Malik dan Baihaqi dengan sanad jayyid


b.      2. Adab dan Sopan santun


Begitu pentingnya kedudukan shalat dalam Islam, karena shalat merupakan ibadah yang dihisab pertama di akhirat nanti. Karena itu sebagai Muslim kita harus lebih perhatian terhadap adab-adab shalat kita. Karena, adab merupakan penentu diterima-tidaknya amal perbuatan kita. Adab-adab yang harus diperhatikan dalam mengerjakan shalat, antara lain:[3]

  1. Membersihkan kotoran yang melekat di badan atau istilah lainnya kita harus suci dari hadats kecil maupun besar. Kemudian menutup aurat, berdiri menghadap kiblat sambil merenggangkan kedua telapak kaki, dan bacalah surat An Naas untuk melindungi diri dari godaan syetan.
  2. Hendaknya dalam bermunajat, kita merasa malu kepada Allah, karena selama ini hati kita selalu lalai, senantiasa memikirkan urusan dunia, bukan memikirkan urusan akhirat.
  3. Hendaknya kita segera menghadirkan hati, mengkosongkan dari rasa was-was dan ingat bahwa kita berdiri menghadap Allah guna bermunajat dan mengagungkannya. Sebab, barangsiapa mengerjakan shalat tanpa penyaksian akal, maka berarti ia lalai. Dan barangsiapa mengerjakan shalat tanpa ketundukan jiwa, itu pertanda ia berdosa. Sia-sialah amalnya.
  4. Apabila semuanya sudah ‘hadir’ siap menghadap Allah, maka angkatlah kedua tangan pada waktu takbir sampai batas kedua pundak dengan kedua telapak tangan terbuka. Jangan merapatkan jari-jari dan jangan merenggangkannya, tetapi biarkan menurut apa adanya sehingga kedua telapak tangan sejajar dengan kedua telinga.
  5. Turunkan kedua tangan perlahan-lahan dan jangan mengebaskannya ke kanan dan ke kiri, yakni setelah selesai bertakbir. Dianjurkan mengakhiri takbir bersama meletakkan kedua tangan.
  6. Letakkanlah tangan kanan di atas tangan kiri dan bentangkan jari-jari tangan kanan sepanjang tangan kiri dan peganglah pergelangan tangan kiri dengan telapak tangan kanan.
  7. Menepati ketentuan-ketentuan imam jika sebagai imam. Dan menepati ketentuan-ketentuan makmum jika sebagai makmum.
  8. Hendaklah di waktu berdiri memandang ke tempat sujud, walaupun menshalati jenazah. Hal ini dilakukan dari awal hingga akhir shalat. Agar lebih menyatukan dan lebih menghadirkan hati.
  9. Jangan menoleh ke kanan atau ke kiri, atau lirik-lirik, karena hal ini dapat membatalkan shalat.
  10. Pada saat membaca tasyahud, ketika sampai pada bacaan assalaamu ’alaika ayyuhan Nabiyyi wa rahmatullaahi wa barokaatuh. Hadirkan Nabi SAW dalam hati. Sebab, dhomir ka, menurut ilmu Nahwu/Sharaf, pada kalimat assalaamu ‘alaika… menunjukkan mukhaththab. Artinya, orang yang kita beri salam, jaraknya dekat, atau ada dan berhadapan dengan kita. Yaitu an Nabiy (SAW). Sebagaimana diterangkan dalam sebuah dawuh:
    “Dan sebelum kamu mengucapkan: Assalaamu ‘alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatullaahi wa barokaatuh, Istidlorkanlah (bayangkanlah/hadirkanlah) beliau (SAW) yang mulia dalam hatimu. Dan yakinlah salam-mu (angan-anganmu, membayangkan Kanjeng Nabi itu) diterima beliau SAW dan dijawab/dibalas dengan yang lebih sempurna.” (Ihya: I/135, Sa’adatud Daroini: 223, Risalah Tanya Jawab Salawat Wahidiyah dan Ajarannya)
  11. Saat membaca tasyahud, disunnahkan membatasi pandangannya pada jari telunjuknya selama terangkat. Bentangkan jari telujuk kanan dengan sedikit memiringkannya agar tidak keluar dari arah kiblat saat mengucapkan kalimat “Illallah”. Hal ini berlangsung terus hingga berdiri dari tasyahud awal, atau salam dalam tasyahud akhir.
  12. Dalam bersujud, supaya benar-benar sempurna. Anggota sujud itu ada tujuh jumlahnya. Yaitu; jari-jari kedua telapak kaki, dua lutut, dua telapak tangan, dan wajah. Ketujuh anggota sujud itu tidak akan tersentuh api neraka apabila didalam sujud benar-benar tepat.
  13. Ketika sujud, letakkanlah kedua lutut terlebih dahulu sebelum meletakkan kedua tangan dalam keadaan terbuka. Kemudian letakkan hidung sejajar dengan dahi. Jauhkanlah kedua siku dari lambung dan angkatlah perut di atas kedua paha, untuk laki-laki. Untuk perempuan, letakkan kedua tangan di atas tempat sujud sejajar dengan pundak.
  14. Letakkan tangan kiri dengan jari-jari terbentang di atas paha kiri dan duduklah di atas kaki yang kiri dalam duduk di antara dua sujud.
  15. Duduklah di atas pantat yang kiri dalam tasyahud akhir dengan meletakkan kaki kiri di luar dari bawah kaki kanan, dan tegakkan telapak kaki kanan. Kemudian setelah selesai membaca tasyahud akhir, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, ucapkan salam.

0 komentar:

Post a Comment

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes